Forgiveness, dalam bahasa indo bisa diartikan sebagai tindakan memaafkan. Hehe, tau sendiri lah kata ini mudah untuk diucapkan namun sangat sangat dan sangat susah untuk dilakukan. Mantan pacar yang dikhianati, businessman yang kena tipu investasi palsu, seorang teman yang jadian ama cewek/cowok yang kita sukai,  ibu yang terkadang cerewet,  tetangga yang nyebelin sak enak e dewe,  kajur ato boss yang sok dan memerintah anak buah dengan seenakna, admin yang melupakan jati diri dan tanggung jawab na sebagai seorang admin, dan banyak yang laen. Jadi rada emosi dikit ne, haha.

Anyway dan btw, tulisan kali ini mengilustrasikan kegiatan seorang guru dan murid nya yang mengajarkan kita mengenai sebuah sudut pandang baru dari kata forgiveness. Ada orang bilang bahwa kesabaran itu ada batas nya. Namun aku bilang kesabaran itu tak berbatas. Yang memberi batasan akan kesabaran adalah ego dari manusia itu sendiri.

Forgiveness

Seorang guru meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan. Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan tanggal disecarik kertas.

Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban. Mereka diminta untuk membawa kantung bening berisi kentang itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala tidur, di letakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan.

Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai. Dan semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.

Teman, pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritual yang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantung yang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa membawa beban itu, sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana saja kita melangkah.

Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, dan aroma yang tak sedap, bisa jadi itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian. Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan. Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedegilan hati.

So mau nggak kamu memaafkan semua orang yang belum kamu maafkan samapai saat ini ?

Advertisements